LayarNarasi.Com – Pasar Baru, Jakarta, kenal sebagai surga bagi para pemburu barang-barang antik dan elektronik lawas. Namun, belakangan ini, kawasan ini juga menjadi tempat yang populer bagi generasi Z yang tengah jatuh cinta dengan kamera film atau kamera analog klasik. Di tengah kemajuan teknologi dan dunia yang serba digital, romansa Gen Z dengan kamera lawas yang sempat tenggelam beberapa dekade lalu, kembali menggeliat dan menjadi tren yang menarik perhatian.
Fenomena ini sangat menarik karena melibatkan dua dunia yang berbeda: generasi muda yang terhubung dengan dunia digital dan teknologi canggih, serta benda-benda tua yang memancarkan kehangatan nostalgia. Kamera film yang dulu anggap kuno kini menjadi barang incaran banyak anak muda yang ingin merasakan sensasi memotret dengan cara yang lebih klasik.
Kamera Film Klasik: Tren yang Kembali Digemari
Di pasar-pasar seperti Pasar Baru, kamera film yang dulunya hanya temukan di rak-rak toko bekas kini mendapat tempat istimewa di hati Gen Z. Kamera seperti Nikon FM2, Canon AE-1, dan Olympus OM-10 kembali populer, tidak hanya karena kualitas gambar yang memikat, tetapi juga karena proses pengambilan gambar yang lebih lambat dan penuh perasaan.
Bagi banyak generasi Z, menggunakan kamera film adalah pengalaman yang jauh lebih personal dan mendalam bandingkan menggunakan kamera digital. Setiap foto yang ambil dengan kamera film memerlukan kesabaran dan perhatian, karena hasilnya baru bisa lihat setelah film tersebut cetak. Ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama di tengah kecepatan dan keterbukaan dunia digital yang serba instan.
Beberapa anak muda yang berkunjung ke Pasar Baru bahkan sengaja mencari kamera film bekas dengan harga terjangkau. Mereka tidak hanya tertarik untuk mengoleksi, tetapi juga untuk merasakan keunikan dalam proses memotret, yang berbeda jauh dari kamera digital atau ponsel pintar.
Romansa Nostalgia dan Keinginan untuk Berbeda
Apa yang membuat Gen Z tertarik pada kamera film mungkin adalah faktor nostalgia. Meski mereka sendiri tidak pernah mengalami masa-masa itu. Mereka merasa bahwa menggunakan kamera film memberikan mereka sensasi otentik dan “real” yang mungkin hilang dalam dunia yang penuh dengan filter dan pengeditan foto digital.
Selain itu, kamera film juga menawarkan kesempatan bagi Gen Z untuk berbeda dari tren foto instan yang ada di media sosial. Keaslian gambar yang hasilkan oleh kamera film. Dengan warna yang lebih lembut dan grain yang khas. Membawa karakter yang tidak bisa temukan di foto digital. Hal ini menciptakan daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin menonjolkan keunikan dan estetika yang lebih personal.
Koneksi Sosial Lewat Kamera Film
Fenomena ini juga membawa dampak positif dalam hal hubungan sosial. Banyak komunitas-komunitas Gen Z yang terbentuk untuk berbagi tips, trik, dan karya fotografi mereka menggunakan kamera film. Komunitas-komunitas ini sering kali berkumpul di kafe-kafe kreatif atau bahkan di Pasar Baru untuk berburu kamera dan film. Di sini, mereka tidak hanya berbicara tentang hasil foto mereka. Tetapi juga berbagi cerita tentang pengalaman mereka dalam menggunakan kamera yang sudah berusia puluhan tahun.
Romansa Gen Z dengan kamera lawas di Pasar Baru adalah contoh bagaimana nostalgia dan modernitas bisa bersatu. Meski berada di era digital, mereka memilih untuk merayakan keunikan dan karakteristik yang hanya bisa dapatkan dari kamera film. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi berkembang pesat. Keinginan untuk mengalami proses yang lebih otentik dan personal masih sangat relevan, bahkan di kalangan generasi muda.
