LayarNarasi.Com – Aksi kreatif warga dalam memprotes jalan mangkrak kembali menyita perhatian publik. Kali ini, sejumlah warga menyulap paving block di jalan rusak menjadi bentuk menyerupai candi, sebagai simbol protes terhadap pembangunan infrastruktur yang tak kunjung rampung. Aksi tersebut viral di media sosial dan menuai beragam respons, mulai dari apresiasi hingga desakan agar pemerintah segera bertindak.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat mencari cara alternatif untuk menyuarakan keluhan ketika saluran formal anggap kurang efektif. Dengan pendekatan kreatif dan visual yang kuat, pesan protes menjadi lebih mudah tersebar dan pahami publik luas.
Aksi Kreatif Warga sebagai Bentuk Protes Sosial
Penyusunan paving berbentuk candi lakukan di tengah kondisi jalan yang telah lama rusak dan terbengkalai. Warga menilai proyek perbaikan jalan tersebut mangkrak tanpa kejelasan waktu penyelesaian, sehingga mengganggu aktivitas harian, mulai dari mobilitas warga hingga distribusi barang.
Alih-alih melakukan demonstrasi konvensional, warga memilih cara yang unik dan satir. Bentuk candi pilih sebagai simbol “monumen” jalan rusak, seolah menjadi penanda sejarah kegagalan pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut. Aksi ini pun menarik perhatian pengguna jalan dan warganet yang membagikannya ke berbagai platform media sosial.
Banyak warganet menilai aksi tersebut sebagai bentuk kritik yang cerdas dan damai. Selain tidak merusak fasilitas umum, protes ini justru menonjolkan kreativitas masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Namun, ada pula yang mengingatkan pentingnya keselamatan pengguna jalan agar aksi semacam ini tidak menimbulkan risiko kecelakaan.
Terlepas dari pro dan kontra, aksi ini berhasil mencapai tujuan utamanya: menarik perhatian publik dan pihak berwenang terhadap kondisi jalan yang selama ini terabaikan.
Respons Pemerintah dan Harapan Perbaikan Infrastruktur
Viralnya aksi warga menyulap paving menjadi candi akhirnya mendorong respons dari pemerintah daerah. Pihak terkait menyatakan akan meninjau langsung kondisi jalan serta mengevaluasi kendala yang menyebabkan proyek tersebut mangkrak. Beberapa alasan yang kerap muncul antara lain masalah anggaran, administrasi, hingga proses tender yang belum tuntas.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk tetap menyampaikan aspirasi secara tertib dan mengutamakan keselamatan. Meski demikian, mereka mengakui bahwa kritik publik, termasuk yang sampaikan secara kreatif, merupakan bagian dari kontrol sosial yang sah dalam demokrasi.
Kasus ini kembali menegaskan pentingnya komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat. Infrastruktur jalan merupakan kebutuhan dasar yang berdampak langsung pada ekonomi dan kualitas hidup warga. Ketika pembangunan terhambat tanpa kejelasan, rasa frustrasi masyarakat pun tak terhindarkan.
Aksi “candi paving” ini harapkan menjadi momentum perbaikan tata kelola proyek infrastruktur, mulai dari perencanaan hingga pengawasan. Warga berharap tidak ada lagi jalan mangkrak yang hanya menyisakan janji, melainkan pembangunan yang tepat waktu dan berkualitas.
Pada akhirnya, kreativitas warga dalam memprotes jalan rusak menunjukkan bahwa kritik tidak selalu harus keras. Dengan cara unik dan damai, pesan dapat tersampaikan luas dan mendorong perubahan nyata.
