Jakarta, LayarNarasi.com – sebuah kebakaran besar melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court distrik Tai Po, Hong Kong yang kemudian nyatakan sebagai salah satu kebakaran paling mematikan di kota tersebut dalam beberapa dekade terakhir. Api cepat menyebar ke beberapa menara apartemen, sebagian besar bangunan tengah menjalani renovasi. Operasi pemadaman dan penyelamatan berlangsung intens, melibatkan ratusan petugas pemadam, paramedis, dan sukarelawan. Namun, struktur bangunan yang bungkus perancah bambu dan material renovasi mudah terbakar menjadi pemicu cepat meluasnya api.
- Menurut laporan terkini, jumlah korban Warga Negara Indonesia (WNI) yang meninggal akibat kebakaran ini telah bertambah menjadi enam orang.
- Sebelumnya sebut bahwa setidaknya dua WNI telah tewas, namun penyelidikan dan identifikasi korban mengungkap jumlah sebenarnya lebih besar.
- KJRI Hong Kong bersama otoritas setempat intensif berkoordinasi dengan keluarga korban dan pemerintah untuk identifikasi. Pemulangan jenazah, serta pendampingan bagi korban selamat.
- Selain korban meninggal, terdapat WNI lain yang terluka; sebagian telah pulangkan dari rumah sakit, sementara sisanya masih dalam pemantauan.
🏚️ Skala Kerugian dan Dampak Lebih Luas
- Kebakaran di Wang Fuk Court tidak hanya menewaskan WNI total korban tewas melonjak drastis. Dengan angka mencapai 128 orang dan ratusan lainnya hilang atau luka-luka.
- Kompleks hunian tersebut terdiri dari delapan menara, sebagian besar mengalami kerusakan parah; sebagian korban terjebak di menara atas ketika api merambat dengan cepat.
- Otoritas Hong Kong telah menangkap sejumlah individu termasuk kontraktor dan pekerja renovasi atas dugaan kelalaian dan pelanggaran keselamatan, sebagai bagian dari penyelidikan kasus ini.
- Insiden ini mengundang perhatian luas terhadap standar keamanan hunian, tata cara renovasi. Serta perlindungan terhadap pekerja migran dan penghuni apartemen padat.
❗ Mengapa Insiden Ini Begitu Tragis
- Material renovasi dan perancah: Penggunaan perancah bambu dan jaring plastik serta material renovasi mudah terbakar yakini mempercepat penyebaran api.Sistem alarm & keselamatan gagal: Banyak penghuni melaporkan bahwa alarm kebakaran tidak berbunyi saat kebakaran terjadi, membuat evakuasi menjadi kacau.
- Kepadatan hunian & renovasi bersamaan: Gedung yang berisi ribuan orang, termasuk pekerja migran seperti WNI tengah renovasi saat insiden terjadi, menyulitkan jalur evakuasi dan penyelamatan.
📰 Respons Pemerintah & Situasi Terbaru
- Pemerintah Hong Kong, bersama aparat kepolisian dan badan antikorupsi. Telah memperingatkan akan melakukan inspeksi menyeluruh terhadap semua proyek renovasi hunian untuk mencegah tragedi serupa.
- Sementara itu, bagi korban dan keluarga termasuk WNI pihak konsulat memberikan dukungan: pendampingan hukum, pemulangan jenazah, serta bantuan darurat.
- Masyarakat dan media internasional menyerukan reformasi sistem pengawasan renovasi dan regulasi keselamatan bangunan di kawasan padat terutama pada hunian vertikal.
Tragedi di Wang Fuk Court menegaskan bahwa keselamatan hunian terutama bagi pekerja migran dan penghuni padat tidak bisa anggap remeh. Insiden ini bukan hanya soal angka, tapi peringatan bagi semua: pentingnya regulasi, inspeksi konstruksi, dan tanggung jawab bersama. Kehilangan enam WNI adalah duka bagi keluarga, komunitas migran, dan Indonesia sekaligus panggilan bagi kita semua untuk terus memperjuangkan perlindungan terhadap pekerja migran.