Jaksa Chat Grup Nadiem Sebelum Jadi Menteri Bahasanya Ngeri

Jaksa Chat Grup Nadiem Sebelum Jadi Menteri Bahasanya Ngeri

Jakarta, LayarNarasi.Com Persidangan yang menghadirkan nama Nadiem Makarim kembali menyita perhatian publik setelah jaksa penuntut menampilkan sejumlah percakapan dalam sebuah grup chat yang disebut terjadi sebelum Nadiem menjabat sebagai menteri. Jaksa menyebut bahasa dalam percakapan tersebut “ngeri”, sehingga memicu sorotan luas dari media dan masyarakat.

Percakapan grup itu hadirkan sebagai bagian dari pembuktian dalam persidangan. Jaksa menegaskan bahwa chat tersebut relevan dengan perkara yang sedang periksa dan perlu pertimbangkan oleh majelis hakim. Meski demikian, jaksa juga menyampaikan bahwa isi chat masih harus uji secara hukum, termasuk konteks, maksud, serta keterkaitannya dengan perkara yang sidangkan.

Pengungkapan ini langsung memicu beragam reaksi. Sebagian publik menilai langkah jaksa sebagai upaya membuka fakta, sementara pihak lain mengingatkan pentingnya asas praduga tak bersalah, mengingat percakapan tersebut terjadi sebelum Nadiem menjabat sebagai pejabat publik.

Jaksa Ungkap Konteks dan Tujuan Penayangan Chat

Dalam persidangan, jaksa menjelaskan bahwa chat grup tersebut menunjukkan pola komunikasi dan cara pandang tertentu yang nilai relevan dengan konstruksi perkara. Istilah “ngeri” yang sampaikan jaksa merujuk. Pada pilihan kata dan gaya bahasa yang anggap tidak lazim jika lihat dari sudut pandang etika publik.

Namun, jaksa juga menegaskan bahwa penilaian tersebut adalah bagian dari argumentasi hukum, bukan kesimpulan akhir. Majelis hakim tetap menjadi pihak yang berwenang menilai bobot pembuktian dan relevansi materi yang ajukan.

Penasihat hukum dari pihak terkait menanggapi dengan hati-hati. Mereka menilai percakapan pribadi sebelum menjabat sebagai menteri tidak bisa serta-merta ditarik ke dalam konteks jabatan publik, apalagi tanpa penjelasan utuh mengenai situasi dan waktu terjadinya percakapan. Kuasa hukum menekankan bahwa bahasa informal dalam grup tertutup tidak selalu mencerminkan niat atau tindakan nyata.

Reaksi Publik dan Penekanan Asas Praduga Tak Bersalah

Pengungkapan chat grup ini dengan cepat menjadi bahan perbincangan di media sosial. Warganet memperdebatkan batas antara ruang privat dan kepentingan publik, terutama ketika seseorang kemudian menduduki jabatan strategis di pemerintahan.

Pengamat hukum menyebut kasus ini sebagai contoh pentingnya kehati-hatian dalam menilai bukti digital. Menurut mereka, chat atau pesan singkat harus lihat secara utuh, tidak dipotong. Serta kaitkan langsung dengan perbuatan yang dakwakan agar tidak menimbulkan bias persepsi.

Di sisi lain, pengamat komunikasi publik menilai istilah “bahasanya ngeri” yang gunakan jaksa berpotensi membentuk opini publik sebelum putusan pengadilan jatuhkan. Karena itu, mereka mengingatkan semua pihak untuk tetap berpegang pada proses hukum dan menunggu hasil persidangan.

Hingga kini, belum ada pernyataan panjang dari Nadiem terkait penayangan chat tersebut di persidangan. Publik pun imbau untuk menyikapi informasi yang beredar secara kritis dan tidak menarik kesimpulan prematur.